This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Nah Ini Dia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nah Ini Dia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2011

Istri Khianat Ipar Disikat

Sabtu, 25 Juni 2011 - 22:52 WIB

Istri Khianat Ipar Disikat

PEMBALASAN lebih kejam dari perbuatan, begitu kata sebuah ungkapan. Markadi, 30, (bukan nama sebenarnya) betul-betul meresapi kata-kata itu. Maka ketika tahu istri mengkianati cintanya, Mirah, 19, (bukan nama sebenarnya) adik iparnya yang duduk dibangku SMA pun langsung disikat. Meski jadi urusan polisi, Markadi merasa dendamnya sudah impas.

Tak gampang membentuk keluarga sakinah yang mawadah warahmah. Setan selalu mencoba menggagalkannya dengan segala intriknya. Jika suami tebal benteng keimanannya, istrilah yang digempur. Sebaliknya bila istri yang kuat iman, suami yang dihajar dengan segala iming-iming “surga dunia”. Dan hasilnya, tak banyak suami istri yang lolos dari jaringan setan. Cita-cita keluarga sakinah berubah jadi keluarga penuh masalah dan banyak diterpa musibah.

Pasangan keluarga Markadi – Jinah tak jauh hadi itu. Baru beberapa tahun membina keluarga, godaan datang bertubi-tubi. Yang kena justru istrinya, Jinah, 27. Sekali waktu ada setan lewat, dan istri Markadi ini jatuh pada pelukan lelaki lain. Kontan Markadi yang tinggal di Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo (Gunung Kidul) ini kecewa berat. Aset miliknya yang selama ini dijaga dan dirawat, ternyata sudah diobok-obok pihak ketiga. “Apa harus saya kasih tulisan, selain yang berkepentingan dilarang masuk?” kata Markadi kesal.

Kini setiap melihat muka istrinya, rasa dendam Markadi makin membara. Dia ingin membalas. Tapi untuk ganti berselingkuh di medan bebas, dia tak punya kemampuan dan keberanian. Maka kemudian yang dilakoninya, justru bermain di kandang sendiri. Yang begini kan lebih mudah, karena tak perlu lagi pendekatan yang bertele-tele. Begitu berminta, ya langsung sikat saja Bleh.

Adik ipar Markadi yang bernama Mirah, memang lumayan cantik, dan menang lebih muda, dan menang bodi pula. Maka saat dia menginap di rumahnya, di kala Jinah istrinya sedang pergi ke pasar, gadis pelajar SMA itu kontan ditindih saat tidur. Awalnya mencoba melawan, tapi karena gempuran Markadi lebih kuwat dan nekad, akhirnya Mirah bertekuk lutut dan berbuka paha juga. “Nanti kamu tak belikan ini itu,” kata Markadi setelah berhasil mencetak gol 1-0.

Sekali waktu, ulahnya ketahuan istrinya.Urusan pun jadi panjang, karena Markadi dilaporkan istri ke Polres Gunung Kidul. Tapi dalam pemeriksaan, dia mengaku bahwa perkosaan itu bukan tanpa motif. Katanya, bukan sekedar pelampiasan hawa nafsu, tapi mengemban misi balas dendam. Terus terang saja, Markadi merasa sakit hati lantaran Jinah mengkianati cintanya. Katanya pula, meski masuk penjara nantinya, dia sudah lega dan legawa.

Balas dendam kok berulang-ulang. (HJ/Gunarso TS)

Bookmark and Share

Lho Kok Di Sini Kakanda

Rabu, 29 Juni 2011 - 22:42 WIB

Lho Kok Di Sini Kakanda

– Sungguh enjoy oknum polisi Hendro, 36,(bukan nama sebenarnya) dari Polres Tulungagung (Jatim) ini. Habis ngeloni WIL, langsung tidur pules. Tapi di tengah mimpinya, tahu-tahu digrobyak (dibangunkan) istri sendiri. Mati kutulah dia, sehingga ketika Ny. Ningrum, 34,(bukan nama sebenarnya) bertanya: “Lho kok di sini Kakanda?”, jawabnya pendek: “Iya Adinda!”

Perselingkuhan suami-istri, sudah lama terjadi. Makin celaka, perselingkuhan di dunia hukum juga makin marak. Dan sungguh tak dinyana, dipicu kasus Nazarudin, bau-bau perselingkuhan hukum juga merembet ke Mahkamah Konstitusi. Pemirsa TV kemarin dulu bisa kenyang menyaksikan di layar kaca, betapa mantan hakim MK Arsyad Sanusi tersengal-sengal saling menelanjangi dengan Ketua MK Mahfud MD. Paling unik, di kala marahpun mereka masih bisa berbasa-basi dengan kata Adinda dan Kakanda.

Nah, kata bentukan wartawan S.Tj.S (Sudaryo Tjokrosisworo) di tahun 1940-an itu kini dipakai pula oleh pasangan suami istri Hendro – Ningrum, ketika terjadi skandal asmara dalam rumahtangga. Ny. Ningrum yang mencoba marah secara terukur, dalam emosinya masih bisa menyindir suaminya dengan kata “Kakanda”. Tapi Hendro yang tertangkap basah mesum, jadi salah tingkah saat mengucapkan: “Iya Adinda.” Capek dalam sandiwara kata-kata santun, keduanya pun lalu keluar aslinya hingga saling maki!

Maaf, pada dasarnya kaum lelaki itu pembosan. Dia merupakan makhluk yang tak mau dalam kehidupan monoton, itu-itu saja. Tak hanya soal makanan, sampai urusan ranjang pun begitu. Maka seperti Hendro yang di sini jadi oknum polisi, meski bininya lumayan cantik, masih juga pengin yang lain. Jika orang punya iman, pasti ingat peringatan Allah SWT bahwasanya manusia harus jadi ummat yang pandai bersyukur. Terimalah saja apa pemberian-Nya. Ingat, siksa Allah amat pedih. (Q.S. Ibrahim ayat 7).

Tapi Hendro ini sepertinya memang tak punya iman, kecuali si “imin”. Saat kenal janda muda yang berpenampilan seger sumyah (baca: seksi menggiurkan), pendulumnya langsung kontak. Dia tak mau hanya mengagumi kecantikan Mayang, 28, tapi harus menggumuli sekalian. Maka oknum polisi dari Polres Tulungagung ini mulai main mata dengan si janda.
Dasar lagi milik, aspirasi urusan bawahnya ternyata bisa diterima, sehingga dari lirik-lirikan itu kemudian berubah jadi “enjot-enjotan”.

Di hari-hari tertentu dia pasti nyambangi gendakannya di Dusun Bakalan, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang. Ibarat mobil di bengkel, di sana Hendro “tune up” sekalian sporing balansing dan amplas platina. Karena berkoalisi dengan janda cantik itu mengasyikkan, pulang ke rumah pun jadi telat. Tapi sebagai polisi, tentu saja alasannya bisa banyak. “Tadi di anu ada kasus pembunuhan….,” kata Hendro pada istrinya. Dan Ny. Ningrum yang sangat memaklumi tugas kebayangkaraan, hanya bisa diam.

Tapi istri boleh nerima, tapi “sing momong” tentu tidak terima! Lewat tangan orang-orang yang peduli tetangga, akhirnya ada informasi masuk lewat HP bahwa Hendro suka mangkal di rumah janda Mayang di Jombang. Begitu detil data-data itu, sehingga Ningrum pun bergagas mendatangi alamat itu. Ee, ternyata betul. Didapatkannya malam itu Hendro sedang tidur pules di samping WIL-nya. Kontan dia dibangunkan, sementara Mayang sang primadona hanya diam tak berkutik.

Tentu saja Hendro kedandapan bin salah tingkah. Karena di rumah orang, awalnya suami istri itu masih bisa berbasa-basi kakanda dan adinda.
Tapi lama-lama emosi Ningrum pun jadi bangkit. Ributlah keduanya, sehingga tetangga ikut melerai. Tapi ibu malang ini tak terima sehingga melaporkan skandal ini ke Polres Tulungagung. Ningrum ingin sekali memberi pelajaran kepada suaminya yang pengkhianat cinta.
Wah, gara-gara soal “turun celana” bisa turun pangkat. (HS/Gunarso TS)

Selasa, 24 Mei 2011

Sopir “Nyodok” Istri Teman

Jumat, 20 Mei 2011 - 21:29 WIB

Sopir “Nyodok” Istri Teman

SOPIR nyodok kendaraan di depannya, itu sih sudah biasa. Tapi jika sopir “nyodok” bini teman, itu mungkin hanya dilakukan Su, 40, PNS dadi Pemkab Gunung Kidul. Gara-gara ulah sopir celamitan ini, Sekda pun sampai perlu turun tangan, padahal jelas-jelas yang ngeseks Su sendiri bersama Tini, 30, (bukan nama sebenarnya) istri Sadi (bukan nama sebenarnya)!

Ada ungkapan yang sangat dikenal di DI Yogyakarta, sopir kuwi nek ngaso mesthi mampir. Mampirnya bukan sekedar pemenuhan kebutuhan perut, tapi sering pula untuk urusan yang di bawah perut. Maka kemudian dikenal warung remang-remang, karena kalangan sopir memang paling suka “nyodok” di tempat beginian. Tapi di sinilah uniknya, meski berulang kali kena sodok, si wanita penghuni warung tak pernah poles bodi pakai dempul Isamu.

Adalah Su, lelaki PNS yang bekerja sebagai sopir di kantor Pemkab Gunung Kidul (DIY). Pekerjaan sehari-harinya sebagai petugas antarjemput karyawan. Dengan bis tanggung (ukuran ¾) dia setiap pagi dan siang mengantarkan PNS Gunung Kidul. Nah, sekali waktu saat mengantar Ir karyawan Pemkab yang tinggal di Ponjong, dia melihat pemandangan bagus. Bukan panorama pantai Mbaron atau Sadeng, melainkan wajah Ny. Ir yang menggamit rasa merangsang pandang.

Sebagai sopir normal, kontan pendulum Su bereaksi …..theng! Matanya lalu main lirik, dan beradu pandang. Eh, ternyata wanita yang kemudian diketahui bernama Tini ini memberikan senyum penuh arti. Weh, weh….., hampir saja Su mau injak rem jadi keliru ngegas. Dan sejak ketemu Tini tersebut, Su jadi macam Burisrawa gandrung Sembadra. “Oh Tini, yam yam tilam perjiwatan, baya mirah baya ndika, manuta wong ayu (terimalah cintaku wahai putri cantik),” kata batin Su terkena malarindu.

Tak peduli bahwa Ir sesama teman sekantor di Pemkab, Su tergoda untuk uji nyali. Ketika nomer HP wanita itu diperoleh, dengan gencar dia merayu-rayu lewat SMS. Katanya, di Gunung Kidul banyak luweng (lobang bawah tanah – Red)-nya, dari Bribin sampai Grubuk, tapi “luweng” dari Ponjong seperti apa ya? Eh, ternyata gayung pun bersambut. Nah, di kala suami Tini sibuk kerja di kantor, Su meluncur ke rumah wanita itu di Wetan, Kecamatan Ponjong, dalam rangka wisata “luweng” inkonvensional.

Karena lobi-lobi sudah dicapai, koalisi sepenuh hati itu langsung saja dilanjutkan dengan eksekusi. Meski jelas keduanya bukan pasangan suami istri, tanpa ragu-ragu melakukan adegan ranjang dalam sistem kejar tayang. Namun begitu kedua-duanya sama puas. Su kembali ke kantor dengan senyum simpul sejuta ceria. Baginya siang itu, menikmati “luweng” non Bribin yang tanpa tehnologi Jerman ternyata mengasyikkan juga.

Tapi rupanya, ada mata lain yang menyaksikan, sehingga laporannya sampai juga ke Ir suami Tini. Ketika diklarifikasi, wanita itu tak bisa berkutik, mengaku terus terang bahwa pada 7 Mei 2011 lalu memang telah disetubuhi Su. Tentu saja Ir marah besar. Dia mengadu ke Sekda, agar oknum PNS celamitan itu ditindak tegas. Gara-gara laporan suami Tini, nasib sopir Su kini bagaikan di ujung tanduk. Nyodok mobil orang masih bisa diganti rugi, tapi kalau “nyodok” bini teman?

Penyok nggak? Bisa dibawa ke ketok magic ngkali. (SP/Gunarso TS)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More